Raden Boncolono Manusia Setengah Siluman

IA BERHEMBUS SEPERTI ANGIN, IA SANGGUP MENUTUPI GUNUNG HINGGA TAK NAMPAK HILANG SEPERTI DITELAN BUMI....
Nama gunung Lawu tentu saja bukan hal asing lagi Gunung yang dijaga oleh gaib Sunan Lawu ini menyimpan sejuta kisah misteri yang hingga kini belum. Terungkap. 

Dalam catatan sejarah nama Sunan Lawu memiliki nama lain yaitu Sunan Prabu Widjaja. Apakah benar sosok misterius ini adalah raja Majapahit yang kendang dari istananya setelah digulingkan oleh Prabu Raja Sawardhana? salah satu versi yang banyak dipertanyakan di kalangan kebatinan.
Lalu, siapa pula Raden Boncolono yang kabarnya berhasil menyelamatkan Raden Segugur, putra mahkota Majapanit saat dikejar-kejar musuhnya untuk ditumpas keluar? Apakah dia manusia atau siluman yang memang telah lama tinggal di gunung Lawu. Kemudian, Misteri Sendang Kakung (Lanang) dan Sendang Putri dikupas tuntas lewat jalur supranatural apa khasiat dan tuah air di dua sendang yang sangat dikeramatkan ini. 

Di sebelah Selatan agak ke Barat, dari tempat yang diberi nama Taman sari, ada tempat yang menimbulkan suara mengerikan, di situlah kawah utama Gunung Lawu. Sebagian orang menyebut tempat itu dengan nama Jurang Pangrib-arib. Namun ada juga yang. Lebih suka memberi nama wilayah ini Condromuko. Konon kawah inilah yang dipergunakan untuk menggembleng Raden Tetuko, hingga sakti mahambara, untuk akhirnya dijagokan para Shang Hiyang menghadapi amukan para Asura yang dipimpin oleh Mahapatih Sekipu.

Hingga sekarang para penghayat spiritual banyak yang mempercayai bahwa tempat ini hingga lokasi keramat Pringgondani dijaga Sang Prabu Koconegoro, nama kebesaran Raden'Tetuko setelah berhasil memberantas gerombolan Asura yang dipimpin Sekipu, Bahkan Sekipu sendiri mati dengan mengenaskan di tangan Raden Tetuko, dengan kepala hampir putus karena dipelintir ksatria perkasa ini. Namun dari sekian banyak tempat keramat di gunung Lawu, yang akan. kita telusuri kali ini adalah aliran sungai Condromuko dan beberapa tempat keramat yang menyimpan sejarah. masa lalu.

Dari Pos Cemoro Kandang, berjajar warung-warung yang menjual makanan dan minuman penghangat badan untuk menghilangkan lelah. Di belakang Warung itu, ada jalan menurun, menuju sebuah sungai yang airnya bersumber pada kawah Condromuko. Sungai yang berair jernih itu penuh dengan batu-batu pualam hitam yang bila dipandang sepintas bagaikan ribuan mahesa (kerbau) yang sedang berendam. Di alas sungai itu ada jembatan kecil sebagai penghubung menuju dua mata air atau sering disebut sendang, Di samping jembatan itu tepat di bawahnya ada batu cekung yang membentuk semacam gua kecil (ceruk). Tempat itulah yang sering digunakan penghayat spiritual untuk bertapa kungkum.

"Ini dipercaya bertuah, karenanya bagi mereka yang tahan dingin akan melakukan pertapaan di tempat ini, karena cepat sekali terkabul permohonannya," jelas Kang Boedi Dilihat dai segi spiritual atau mata batin. di sana terlihat seekor naga kehijauan, dia mengaku bernama Ki Naga Giri Kumala Naga ini bila mulutnya menganga, akan terlihat cahaya kuning Dan cahaya itu bila ditelusuri dengan mata batin lebih dalam berwujud sesotya mustika Kumala Retno. Jangankan bisa mengambil dan memilikinya, bisa menghisap aura yang terpendar di tempat itu saja sangat sulit. Maka bila mensenyawai cahaya itu akan membuat seseorang manis bicaranya. perkataannya akan diikuti oleh orang lain.

Berdasar tradisi di sini ziarah pertama yang harus dilakukan adalah di sendang Kukung atau sering disebut sendang Lanang, Di situ ada cungkup bangunan model joglo (rumah tradisional Jawa) yang cukup besar dan dibangun cukup indah. Di altar ada pedupaan bagi peziarah yang mau meditasi di tempat ini. Selesai di sendang Lanang, baru menuju sendang Kakung untuk tidak bisa mandi bersuci (wudhu), membasuh muka, atau mengambil airnya yang kemudian disanggarkan di tempat ini. Di ruang utama sendang Kakung ada patung seekor harimau loreng. Dan memang benar, khodam tempat ini bagi peziarah yang panuwunnya terkabul akan melihat berklebatnya seekor harimau. Bahkan kalau diadakan menjadi orang besar (pejabat) harimau gaib itu akan mendekati peziarah. Dari kacamata batin  singa yang sering. mawujud itu adalah gaib Eyai Singo Sinebaning Dilah. Sebuah keris luk tiga di ujungnya, dan di bagian bawahnya ada ornamen singa duduk.

"ini pusaka auranya sangat garang, cocok untuk para senopati perang atau prajurit. Bila mensenyawai kerisnya akan cepat naik pangkat dan pemberani luar biasa." jelas Eyang Restu Pinanggih, seorang spiritualis di sana. Saat meditasi di tempat ini secara mengejutkan kita bertemu juga dengan Eyang PrabuWijoyo atau Sunan Lawu Sepuh yang kala itu didampingi seorang berperawakan pidekso, bahasa batin mengatakan beliau Eyang Boncolono. Di belakang beliau ada 2 orang sepuh yang sepertinya juga wong sakti. Yang membuat terhenyak, di kanan Eyang Prabu Wijoyo ada kakek. Inti dari wejangan beliau, mulai tahun 2011 ini angkara murka akan makin tak terkendali hingga tahun 2013. Baru memasuki tahun 2014 alam mulai menyeleksi orang-orang terpilih untuk menata alam ini, bukan hanya di Nusantara.

Dari sendang Kakung. peziarah akan menuju ke sendang Putri. Altar pedupaan sendang Puteri ini lokasinya dipenuhi batu hitam dengan nuansa mistis yang lebih panas, Setelah membakar hio wangi, peziarah menuju ke sendang mengambil air untuk tujuan sesuai kehendak hati lalu sowan meditasi di tempat utama. Di sanggar pemujaan ini terdapat patung Durga Mahisasuramandini. Saat menekung di tempat ini, tiba-tiba patung Durga itu pelan-pelan berubah dan tahu-tahu di hadapan telah berdiri seorang wanita agung bermahkota. Beliau mengaku bernama Ratu Suhita. Untuk mengetahui siapa Ratu Suhita, rasanya perlu membuka kepustakaan sejarah masa lalu. Ternyata beliau adalah pengganti Wikramawardhana, yang memenangkan pertempuran Paregreg, sekaligus yang meredupkan bintang terang Majapahit. Dia ini anak perempuannya yang menurut catatan sejarah memerintah keredupan Majapahit tahun 1429 -1447 M. Suhita diangkat. Jadi Raja untuk meredam perang suadara lagi, sebab di ini cucu Wirabumi dari garis putrinya yang dinikahi Wirakramawardhana.

Sejak ia memerintah, ia membangkitkan anasir-anasir kejawen dengan mendirikan berbagai tempat pemujaan di lereng-lereng gunung, seperti di gunung Penanggungan, candi Sukuh dan Cetho di lereng gunung Lawu ini Unsur asli nenek moyang juga ditemukannya batur-batur persajian, tugu batu, patung-patung berbentuk binatang aneh yang memiliki makna sebagai lambang tenaga gaib. Setelah dari kedua sendang ini, langkah selanjutnya menuju makam Raden Boncolono. Dari sendang harus kembali lagi melewati jembatan kecil dan mendaki beberapa undakan. Ruangan pertama sangat gelap dan terdapat patung seukuran manusia. Patung itu seperti patung Budha dan Bunga di tempat ini yang mendandakan sangat banyak peziarah yang ngalap berkah di makam Eyang Boncolono.

Masuk ke ruangan lainnya lebih luas, semacam ruang saresehan bagi kalangan kebatinan. Aura rnakam ini menurut. getar yang terasakan, aura kasepuhan yang sudah tenang batinnya Dari kontemplasi batin, sebenarnya tempai ini bukanlah makam, tetapi pernah digunakan untuk pertapaan senopati kembar zaman Majapahit dibawah pemerintahan Kertawijaya, ia adalah adik tiri dari Ratu Suhita Dialah yang disebut sebagai Brawijaya Pamungkas atau ke VII. Prabu Kertawijaya inilah yang ketika Kerajaannya jebol digulingkan Raja Sawardhana, yang kemudian kerajaan dipindahkan ke Kahuripan Dan Prabu Kertawijaya menyingkir ke Sunan Ampel yang masih kerabatnya. Di Ampel inilah Prabu Kertawijaya wafat. Saat detik-detik ajal menjemput, putra mahkotanya, Raden Segugur atau sering disebut Raden Gugur menunggu. Dialah yang diberi wasiat untuk menyingkir ke Redi Lawu dan pesan itu dilaksanakan. Meski sudah menyingkir, Raden Segugur masih dikejar-kejar terus, hingga di lereng sebelah barat gunung Lawu, tepatnya di desa Talpitu, Ngemplak Ngiri, Karangpandan, terjadi pertempuran hebat, hingga menewaskan Senopati Ageng Gusti Riyo Kusumo yang masih saudara Raden Segugur. Akhirnya putra mahkota ini tetap lari ke puncak gunung dan diselamatkan oleh ampak-ampak (kabut tebal) yang berasal dari Lawu.

Ternyata ampak-ampak itu berasal dari sosok manusia setengah siluman, Raden Bancak dan Raden Doyok yang senang disebut Bancak Doyok. Mereka ini putra dari Senopati Kembar Majapahit, putra Kyai Semar Badranaya yang bernama Raden Sabdo Palon dan Raden Noyo Genggong, yang terkenal dengan kutukan saktinya tentang Tanah Djawa Dwipa ini. Akhirnya Raden Segugur yang kala itu masih diikuti banyak abdi setianya, diantaranya Senopati Pengapit yang kakak beradik, yaitu Eyang Sapu Angiri dan Eyang Sapujagat. Mengikuti Raden Bancak Doyok hingga ke wilayah Jabankanil, desa Banjar Dawung, kecamatan Tawangmangu. Di tempat ini Raden Segugur melakukan tapabrata dalam waktu yang cukup lama sekali hingga akhirnya dijemput oleh Prabu Widjojo, penguasa Lawu. Lalu beliau menyatu dalam rasa dengan Raden Segugur, dibawa moksa ke keraton gaib di puncak gunung Lawu yang sering disebut Kraton Krendo Maninten, yang akhirnya loro ning atunggal ini memerintah di Keraton Lawu dengan gelar Sunan Prabu Widjojo yang juga lebih populer bernama Sunan Lawu Sepuh.

Banyak sekali punggawa dari Majapahit yang akhirnya ikut mokswa ke keraton gaib Krenda Maninten, termasuk para Senopati setianya. Akhirnya Raden Rancak dan Raden Doyok diangkat menjadi Senopati Agung Gunung Lawu. Senopati pengapitnya Eyang Sapu Angin dan Eyang Sapujagat. Makanya di tempat yang sebenarnya pertapaan ini ada 2 bilik tapi saling berhubungan, yang menandakan kalau Raden Bancak dan Raden Doyok, keduanya memang tak terpisahkan. Yang aneh sepertinya antara agama Hindu, Budha dan Kepercayaan Roh Leluhur, menyatu padu seperti halnya konsep Trimurti yang saling mengisi untuk berlangsungnya sebuah proses, keseimbangan. Kalau dilihat dengan mata batin cungkup ini ada sebilah pusaka tus (asli) buatan Empu pertama berdampar Keris Semar Mesem, aura sepuh penuh pengasihan. Namun jangan  harap dapat mengambil secara fisik, karena sudah merdanyang. Paling yang bisa diambil untuk bersenyawa auranya saja.

Dari petilasan Raden Boncolono ini melewati jalan setapak naik, sekitar 25 meter menuruni jalan setapak lagi baru sampai pada sebuah cungkup kecil yang disebut petilasan Eyang Sapu Angin. "Menurut hemat saya, tempat ini hanya tertinggal semacam ilmu Eyang Sapu Angin. Bagi yang menginginkan ilmu Kadigjayaan itu bertapa di sini akan menyerap ilmu tersebut. Dan bila digunakan akan keluar prahara angin," jelas Restu Pinanggih. Turun ke bawah lagi sebenarnya masih ada 1 petilasan Eyang Sapujagad, saudara Eyang Sapu Angin, sayangnya karena erosi tanah di daerah ini, petilasan yang sudah dibangun cungkup kecil ini kerap erosi dan longsor ke dasar jurang sungai. Akhirnya bekasnya hilang. Menurut Restu Pinanggih, kekuatan Eyang Sapu Jagad ini sama dengan kakaknya, hanya saja bedanya bila sang kakak ilmunya menimbulkan angin ribut, kalau adiknya bisa menurunkan ampak-ampak yang sangat tebal, sehingga terkesan menyapu bumi (jagad). Kabut dan juga debu beterbangan inilah yang sering menghilangkan para pendaki yang hatinya tak bersih. Sejak palenggahannya runtuh, Eyang Sapu Jagad menurut mata batin Restu Pinanggih, pindah dalam sebuah gundukan tanah di dekat Pasar Setan Lawu yang juga dinamakan Pasar Dieng Makhluk halus.

Senja mulai tiba, kabut yang dihembuskan Eyang Sapu Jagad makin tebal, pertanda bahwa penjelajahan ini harus usai dan diperkenankan untuk pulang. Selamat tinggal gunung Lawu yang tenang, misterius dan menghanyutkan dalam pesona mistisnya.